Romansa Juli


Aku adalah bisik yang tersesat di labirin kejemukan. Terhisap dalam kekosongan tembok bisu, membaca tulisa-tulisan hening yang dimaktub dengan tinta kesepian. Dinding ini, adalah kanvas rasa yang tak tertumpahkan, menyerap segala keluh, tawa, dan air mata menjadikan lukisan tak kasat mata.


Di balik tembok ini, ada dunia yang tak mampu kugapai. Gema bisiknya mengiris nadi jiwaku mengalirkan puisi-puisi pilu yang hanya bisa kupahami dalam sepi yang berkepanjangan. Dan disinilah aku, berpijak di tanah ilusi, menghitung bintang yang jatuh dalam lubang kelam; menyusun kepingannya menjadi mozaik harapan; yang mungkin tak pernah ada.


Maka dengan jelas, Terucap maaf kepada aku untuk setiap caci maki yang dialamatkan pada diri sendiri. Juga keras kepala yang memaksa letih terlihat pulih.Terima kasih, telah lihai meredam gaduh murka dan bising luka.


Kepada ibu, maaf atas segala cemas yang lahir dari ketidakmampuanku taklukkan dunia. Banyak perkara yang membuatku kesulitan mencari pintu keluarnya. Terima kasih, untuk segala khilaf yang kau ampunkan, untuk segala suka cita yang kau aminkan.


Kepada Juli, sampai bertemu kembali nanti, sebagai musim asri paling dinanti, bersama orang-orang yang aku cintai hari ini.



Komentar

Postingan Populer