JINGGA
Pada wajah damai serupa senja, aku belajar bahwa keindahan tidak selalu meminta tepuk tangan. Ia cukup hadir sebagai cahaya yang jatuh perlahan di pelupuk petang, sebagai senyum yang tak gaduh, atau sebagai tatapan yang sanggup menenangkan bulan paling gelisah di dalam dada. Ada bahasa yang tak memerlukan kata-kata, sebab ketulusan selalu lebih fasih daripada seribu kalimat yang dilafalkan. Barangkali wajah itu telah lama mengembara melewati badai, kehilangan, dan malam-malam yang enggan selesai. Namun setiap luka dipakainya seperti cahaya di ujung khatulistiwa, gemerlap tanpa dendam. Ia tidak sedang menyembunyikan nestapa, melainkan mengubahnya menjadi ruang bagi harapan untuk tumbuh. Keteduhan rupanya bukan anugerah yang turun dari langit, melainkan keberanian yang ditempa berkali-kali oleh kehidupan. Aku memandangnya seperti membaca sebuah sajak yang tidak pernah tamat. Setiap garis adalah larik, setiap kerut adalah jeda, setiap cahaya di matanya adalah metafora yang te...