00 : 01

 Tubuh itu masih di sana, meringkuk di atas kasur seprai merah yang lupa kuganti. Bau apeknya mulai menyatu dengan aroma kegagalan semacam bau keringat dingin dan debu yang mengendap lama. Setiap kali gelap mulai merayap masuk lewat celah pelipir mata, aku merasa sedang pelan-pelan ditelan oleh lubang hitam yang kubuat sendiri.

​Di jam-jam seperti ini, segalanya jadi tidak masuk akal. Abstraksi itu datang tanpa permisi, membuatku merasa seperti orang asing di kulitku sendiri. Aku terjebak dalam teka-teki konyol tentang eksistensi, kenapa aku harus bangun besok pagi? Untuk apa mengulang ritual mandi, makan, dan berpura-pura hidup, jika ujungnya hanya untuk kembali ke kasur yang sama?

​Ketidakpastian itu bukan lagi sekadar bayangan, tapi sudah seperti beban fisik yang menindih dada. Besok akan datang, matahari akan terbit dengan sombongnya, dan dunia akan menuntutku untuk menjadi sesuatu.Sialan!

​Padahal, mungkin memang tidak ada apa-apa di sana. Tidak ada takdir besar, tidak ada rencana semesta. Hanya ada aku, seprai kusam ini, dan sunyi yang memekakkan telinga. Tapi anehnya, dalam kehampaan yang total itu, aku merasa punya kuasa. Jika dunia ini memang sebuah komedi yang gagal, setidaknya aku bebas menentukan kapan aku harus tertawa di atas penderitaanku sendiri. Aku masih di sini, bernapas di tengah ketidakberartian, dan entah bagaimana, itu terasa cukup.



Komentar

Postingan Populer