bertajuk
Malam merana, gelayut tajamku pun kini tereja pada bayang-bayang yang usang. Di antara goresan kata yang terjeda ini, dari deru angin sunyi dan bisik ranting-ranting kedunguan. Malam ini yang ke sekian syahdunya aku, adalah batas waktu dimensiku menyita secercah impian.
Saat arah angin memberi salam kepada bintang, beribu-ribu binar cahayanya, membahasa ucapku pada ketinggian jejak langkah di pengaharapan. Walau purnama tak ada yang merindukannya lagi, apalah siklus hidupku yang kini terkukus gelembung-gelembung penderitaan. Di laut kata yang berlayar ke ampena, pada jala kalbuku yang tenggelam sunyi di dasar samudera kegelisahan.
Masih terdengar jelas nada-nada laut ini bersuara di gendang telinga saja. Kala inderaku menyelam tegar bersama ombak-ombak pencarian. Maka atas deburan ombak yang tiada letihnya, Tersisip pula makna jika semesta menyelipkan takdir di tengah-tengah rancunya pikiran. Pada lumbung keindahan dan keikhlasan yang di sebut hati.
Komentar
Posting Komentar