Bermuara di ke-keliruan
Sedari awal semua ini salahku, yang terlambat memahami, ketika kau menginginkanku hilang, tapi tak lantang untuk berterus terang. Setiap hal di diriku adalah keliru. Bahkan segala yang bersifat abu-abu akan dijadikan sebagai peluru. Bersiap melesat, sebagai upaya agar aku pergi dengan sendirinya. Bagiku makna cinta begitu samar menggelegar. Ia datang sebagai tawa, kadang berubah wujud serupa siksa. Aku menerka dengan cara tak sempurna.
Mencintai atau membenci bukan sebuah pilihan. Aku hanya ditempatkan untuk menjalani, menafsirkan, lalu menentukan ke mana arah mata hati ditujukan. Benci bukanlah sesuatu yang diciptakan, ia dipaksa lahir dari keadaan dan sakit yang sia-sia dipulihkan. Pada paruh malam rembulan membawa kabar, aku tak mau menjadi alasan kau berujar perihal sukar. Sungguh, tak ada satu pun tubuh yang ingin jadi beban bagi tubuh lainnya.
Aku hanya ingin jadi peluk yang teduh untuk kau, dan hari-hari yang rapuh. Jika ada yang harus dipaksa hilang, entah aku, kau, atau mungkin kita yang jatuh lalu jauh. Nyatanya nyamanmu bukanlah pada tempatku. Sungguh aku tak ingin, terus menerus menyalahkan diri, apalagi merasa tak layak dicintai. Maka telah kupermudah kau membuat celah, agar terlepas dari lilit rumit, dan aku merasa lega, ketika melihat senyummu kembali sempurna.
Komentar
Posting Komentar