Lelaki terumbuk karang

 Aku belajar bicara dengan tenang pada luka ditepian samudra. Kupersilahkan rasa sakit mengutarakan sesak dan sesalnya pada laut bercerita. bercengkerama—lama, tapi tak sebanyak waktu memahami makna cinta. Banyak orang bertanya, apakah patah asmara seorang lelaki tak pernah meneteskan air mata? Maka secara lugas bibir berbicara; bukankan cinta adalah rela? Barangkali aku salah satunya.


Terkadang sebuah perang datang dalam diam. Tak ada gelegar, tanpa teriakan, hanya ada seutas sepi yang menancap di jantung sunyi. Aku dicaci maki pikiran dan egoku sendiri. Laut biruku berbaur hitam pekat, Kunikmati desau angin memukul-mukul ujung kaki ini, bakterumbuk karang yang dihantam ombak habis-habisan, namun tetap bertahan.

 

Di lautan lah aku ditenggelamkan oleh cinta dan aku tidak menginginkan pertolongan.


Kini aku tak lagi mau mengukur kedalaman kecewa, aku biarkan segala hal mengalir semestinya. Kuikhlaskan hilang tak lagi pulang. Bagiku cinta adalah seimbang, bukan sepasang pengemis dan tuan. Maka tersimpulka tidak ada ukuran puas untuk sebuah pengorbanan. Sebanyak apa yang diberikan, sekurang itu juga yang terbantahkan.


Komentar

Postingan Populer