Ikhlas itu bohong
Katanya obat mujarab mengobati rasa rindu itu dengan bertemu, lalu menyampaikan secara gamblang atas rasa yang meluap-luap. Namun bagaimana jika rindu ini dititipkan kepada seseorang yang telah terbungkus beberapa lembar kain putih tipis? Tertidur pulas didalam liang yang disebut rumah, hingga tertimbun tanah basah yang perlahan akan mengering seiring penerimaan sang waktu.
Apakah harus menggalinya lalu memeluk tubuh dingin itu guna menyalurkan kehangatan dan kerinduan?
Di saat-saat seperti ini pun aku tak kuasa berbuat banyak, hanya mampu memendam dan meresapi keresahan hati, yang justru malah membuat semakin sesak. Menumpahkan segala pedih lewat lelehan kristal bening yang berebut turun membasahi pipi, menimbulkan getaran halus pada belah bibir sebab sekuat hati menahan isakan, agar tidak terdengar pilu.
Tuhan....
Aku tak pernah merasa se egois ini kau paham itu, tetapi tidak bisakah kau datangkan kembali dirinya? Akan sangat sakit bila hanya bayangan yang muncul dalam mimpi, tanpa adanya sosok kesatria sepertinya yang senantiasa menerka kehidupan fana ini.
Komentar
Posting Komentar