Kopi januari
Dan kembali ke januari, sesuatu kini kusadari. Secangkir kopi ini ternyata jauh lebih baik dari pada kamu. Karena kopi itu jujur, kalau di awal pahit, seterusnya dia akan pahit. Tidak akan pernah manis di awal. Dan kalau kopi sudah tumpah, mungkin aku hanya butuh kain untuk mengelapnya. Tapi kalo rindu ku yang sudah tumpah, aku tak hanya butuh sebuah temu. Aku membutuhkan kamu.
Begitupun dengan hujan januari. Hujan pun lebih baik darimu. Sedingin apa pun ia, nyatanya lebih dingin sikapmu. Satu-satunya persamaan antara kamu dan hujan hanyalah; kalian kalian sama-sama membuatku jatuh cinta. Padahal hanya datang dan pergi begitu saja.
Dan sebanyak apa pun aku menggambarkan kamu. Aku hanya berdoa'a, agar senyumu selalu utuh. Meski tidak bisa aku temui lagi,meski bukan untuk aku lagi.
Komentar
Posting Komentar